Perusakan Lingkungan hidup

Permasalahan Lingkungan Hidup dan Pencemaran Lingkungan

Permasalahan tentang lingkungan hidup baru ramai dibicarakan sejak kira-kira 15-20 tahun yang lalu. Perbincangan itu timbul di negara maju, terutama Amerika Serikat karena tercemarnya air, tanah, udara oleh limbah industri, asap mobil dan pabrik, serta zat kimia beracun. Banyak orang menyangka, masalah lingkungan hidup hanyalah terbatas pada pencemaran dan timbul karena ulah manusia. Tetapi ternyata masalah lingkungan lebih luas daripada pencemaran dan dapat terjadi karena tindakan manusia maupun secara alamiah.

Kerusakan sumberdaya alam dan lingkungan hidup yang terjadi selama ini berkaitan erat dengan tingkat pertambahan penduduk dan pola penyebaran yang kurang seimbang dengan jumlah dan penyebaran sumberdaya alam serta daya dukung lingkungan hidup yang ada. Di samping itu, kerusakan tersebut juga merupakan akibat dari pengaturan penggunaan sumberdaya alam dan lingkungan hidup yang belum memadai. Sebagai akibat dari adanya pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi dan kurang memadainya peraturan penggunaan sumberdaya alam dan lingkungan hidup maka beberapa daerah ditinjau dari kerusakan lingkungan hidup yang terjadi telah merupakan daerah rawan.

Di daerah yang tanahnya kurang subur dan penduduknya masih mempunyai kebiasaan membuka hutan untuk perladangan baru akan membuat kerusakan lahan semakin parah. Lahan pertanian tradisional, terutama lahan pertanian kering masih tetap rawan terhadap bahaya kemerosotan kesuburan tanah, karena erosi dan pencucian hara oleh hujan.  Sedangkan di lingkungan pemukiman dan industri masalah utama yang masih tetap belum terpecahkan ialah limbah kota dan limbah industri. Bahan-bahan berbahaya yang dihasilkan sebagai limbah oleh kegiatan industri makin bertambah dan belum ada cara yang berhasil untuk menanganinya. Limbah yang ada dibuang ke sungai, laut atau ke dalam lapisan bumi yang lebih dalam. Cara pembuangan demikian membahayakan kelangsungan kehidupan. Sementara limbah kota baik berupa limbah cair, padat atau gas juga semakin bertambah. Penanggulangan terhadap masalah ini masih menghadapi kesukaran, terutama dalam pengumpulan limbah tersebut dan dalam mendapatkan tempat buangan yang aman. Peran serta masyarakat di dalam usaha penanggulangan limbah kota perlu lebih ditingkatkan lagi.

Produk sampingan dari perkembangan industri ialah pencemaran air, tanah, sungai dan laut akibat pembuanagn limbah industri, pencemaran udara akibat peningkatan kadar karbondioksida dari cerobong asap pabrik danpembakaran minyak oleh kendaraan bermotor serta kerusakan lingkungan alam oleh hasil industri berupa bahan anorganik yang sulit dipecahkan dan bahan kimia seperti pestisida yang turut mempengaruhi kesehatan rakyat dan kualitas lingkungan hidup. Dengan makin banyaknya industri menyebar ke banyak negara maka permasalahan linhkungan hidup mulai meluas mencakup berbagai kegiatan industri di berbagai negara. Akibatnya pengaruh pencemaran sudah tidak terbatas di lingkungan daerah atau negara yang menderita, tetapi sudah mulai menjalar dan mempengaruhi keadaan lingkungan hidup negara-negara lain.

Pembangunan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup

Meningkatnya pembangunan perumahan, beberapa jenis konstruksi dan prasarana lainnya serta makin meningkatnya pembuatan berbagai jenis sarana, memerlukan penyediaan berbagai bahan bangunan yang makin banyak. Di samping, pelestarian alam dan lingkungan dalam hubungannya dengan proses pembangunan dan eksploitasi sumber alam, masalah pelestarian alam dengan pengembangan perlindungan atas wilayah dan suaka alam dewasa ini juga perlu perhatian seksama. Hutan lindung dan kawasan khusus yang mempunyai fungsi perlindungan masih mengalami kerusakan yang diakibatkan oleh penggarapan lahan penduduk yang dilakukan tanpa disertai usaha pelestarian. Hutan suaka alam yang ada juga masih mengalami gangguan berupa perusakan dan penggarapan lahan secara liar.

Usaha untuk menumbuhkan kemampuan dalam menangani masalah lingkungan hidup di daerah telah di mulai dengan dibentuknya pusat studi lingkungan hidup, biro kependudukan dan lingkungan hidup dan dilakukannya perencanaan pengelolaan lingkungan hidup. Pengeturan pembangunan berwawasan lingkungan memamng belum berkembang seperti yang diharapkan. Pembangunan berwawasan lingkungan masih belum ditunjang oelh tata laksana yang memadai. Seringkali hal ini mengakibatkan timbulnya ketidakpastian dalam tata ruang dan tata guna lingkungan dan kesimpangsiuran dalam tata cara pelaksanaannya. Meskipun UU No.4  tahun 1982 tentang ketentuan pokok pengelolaan lingkungan hidup sudah diundangkan, peraturan perundangan dan peraturan pelaksanaannya masih belum selesai seluruhnya. Hal ini menyebabkan pengaturan lingkungan hidup dalam pelaksanaan pembangunan masih belum terlaksana dengan baik. Pengelolaan lingkungan hidup berasakan pelestarian lingkungan yang serasi dan seimbang untuk menunjang pembangunan yang berkesinambungan bagi peningkatan kesejahteraan manusia. Sedangkan pengelolaan lingkungan hidup ialah :

1. tercapainya keselarasan hubungan antara manusia dengan lingkungan hidup sebagai bagian dari tujuan pembangunan manusia Indonesia seutuhnya.

2. terkendalinya pemanfaatan sumberdaya secara bijaksana.

3. terwujudnya manusia Indonesia sebagai pembina lingkungan hidup.

4. terlaksananya pemabangunan berwawasan lingkungan untuk kepentingan generasi sekarang dan mendatang.

5. terlindunginya negara terhadap dampak kegiatan di luar wilayah negara yang menyebabkan kerusakan dan pencemaran lingkungan

Perkembangan analisis mengenai dampak pembangunan terhadap lingkungan hidup, baku mutu limbah dan baku mutu bahan  buangan, pengeturan mengenai pelestarian lingkungan dan tata lingkungan serta lainnya masih harus ditruangkan ke dalam sisitem pengaturan yang dapat menjadi pegangan bagi para pelaksana pembangunan di lapangan. Dengan demikian, keserasian pengaturan dan kebijaksanaan anatardaerah dalam usaha pembinaan keserasian antar pembangunan dan lingkungan hidup perlu dikembangkan. Interaksi antara manusi dengan lingkungan hidupnya adalah wajar. Yang perlu dipermasalahkan ialah tata laksana hubungan interaksi tersebut agar keduanya dapat tumbuh dengan baik. Oleh karena itu masalah pengelolaan interaksi antara manusia dan alam merupakan masalah utama dalam pelestarian alam dan lingkungan hidup.

Kebijaksanaan

Garis-garis besar haluan negara dengan jelas menyebutkan bahwa sumberdaya alam merupakan salah satu modal dasar pembangunan. Oleh karena itu, pemanfaatannya harus memperhatikan faktor dominan seperti faktor demografi, sosial budaya, geografi, geologi, topografi, klimatolohi, flora dan fauna yang semuanya merupakan faktor lingkungan hidup. Sebagai modal dasar, sumberdaya alam harus dimanfaatkan sepenuhnya tetapi dengan cara yang tidak merusak. Bahkan sebaliknya, cara yang dipergunakan harus dipilih yang dapat memelihara dan mengembangkan agar moda dasar tersebut makin besar manfaanya untuk pembangunan lebih lanjut di masa datang.

Dengan demikian, maka setiap pemanfaatan sumber alam perlu memperhatikan patokan sebagai berikut :

1. data guna dan hasil guna yang dikehendaki harus dilihat dalam batas yang optimal sehubungan dengan kelestarian sumber alam yang mungkin dicapai.

2. tidak mengurangi kemampuan dan kelestarian sumber alam lain yang berkaitan dalam suatu ekosistem.

3. memberikan kemungkinan untuk mengadakan pilihan penggunaan dalam pembangunan di masa depan.

Kebijaksanaan  pembangunan dengan wawasan lingkungan hidup perlu diusahakan demi perluasan dimensi pembangunan itu sendiri. Pembangunan bukan hanya untuk meningkatkan taraf hidup dalam arti material, tapi juga dalam rangka meningkatkan mutu kehidupan yang hakiki. Pembangunan yang juga didasari oleh pendekatan ekosistem atau pembangunan yang berwawasan lingkungan hidup diharapkan dapat mencegah terjadinya akibat sampingan yang merugikan masyarakat. Selanjutnya diharapkan pula dapat diperoleh hasil optimal yang berkesinambungan dalam usaha peningkatan kesejahteraan rakyat dan pembangunan landasan yang kuat untuk usaha pembangunan selanjutnya. Yang terakhir bahwa pembangunan berwawasan lingkungan diharapkan dapat membantu mempercepat terwujudnya kerangka landasan pembangunan jangka panjang.

Sesuai dengan hal yang diuraikan tersebut, kebijaksanaan pemerintah menggariskan pokok-pokok kebijaksanaan di bidang sumber alam dan lingkungan hidup sebagi berikut :

1. inventarisasi dan evaluasi sumber alam perlu terus ditingkatkan denga tujuan untuk lebih mengetahui dan memanfaatkan potensi sumber alam baik di darat, laut atau udara yang sangat diperlukan bagi pembangunan.

2. dalam penelitian, penggalian dan pemanfaatan sumber alam serta dalam pembinaan lingkungan hidup perlu digunakan teknologi yang sesuai dan pengelolaan yang tepat sehingga mutu dan kelestarian sumber alam dan lingkungan hidup dapat dipertahankan, untuk menunjang pembangunan berkesinambungan.

3. dalam pelaksanaan pembangunan perlu selalu diadakan penilaian seksama terhadap pengaruhnya bagi lingkungan hidup.

4. rehabilitasi sumber alam berupa hutan, tanah dan air yang rusak perlu ditingkatkan lagi melalui pendekatan terpadu daerah aliran sungai dan wilayah. Dalam hubungan ini program penyelamatan hutan, tanah dan air perlu disempurnakan.

5. pendayagunaan daerah pantai, wilayah laut, dan kawasan udara perlu dilanjutkan dan makin ditingkatkan tanpa merusak mutu dan kelestarian lingkungan hidup.

Contoh kerusakan lingkungan

KOMPAS.com- Ancaman global sudah di depan mata. Indonesia salah satu negara yang sangat rawan  terhadap dampak negatif  perubahan iklim. Perubahan iklim telah mengubah pola presipitasi (hujan) dan evaporasi (penguapan), sehingga berpotensi menimbulkan banjir di beberapa lokasi dan kekeringan di lokasi yang lain. Kenyataan ini sangat mengancam berbagai bidang mata pencaharian masyarakat di Tanah Air, terutama pertanian dan perikanan. Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia mengalami peningkatan intensitas dan frekuensi perubahan cuaca yang mengkhawatirkan. “Kita berulang menghadapi banjir, kekeringan, dan kejadian-kejadian yang berawal dari penggundulan dan kerusakan hutan,” kata  mantan Menteri Negara Lingkungan Hidup, Rachmat Witoelar.

Persoalan pemanasan global dan perubahan iklim yang mengejala itu memperlihatkan bahwa berbagai aktivitas pembangunan yang dilakukan tidak atau kurang memperhatikan keberlanjutan ekologis, yang merupakan faktor mendasar bagi pembangunan yang berkelanjutan. Sejalan dengan gejala perubahan iklim, kelangkaan air (kekeringan) pada musim kemarau menjadi salah satu isu yang paling menonjol dalam sumber daya air. Demikian pula dengan persoalan kelangkaan dan kesulitan air yang layak pakai (air bersih). Status Lingkungan Hidup Indonesia tahun 2007 melaporkan, penurunan kualitas air disebabkan oleh rusaknya daerah tangkapan air yang cenderung diperparah oleh gejala perubahan iklim.

Berdasarkan perhitungan kebutuhan air yang dilakukan Ditjen Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum, Pulau Jawa (yang memiliki populasi dan industri tinggi), Bali, dan Nusa Tenggara Timur telah mengalami defisit air sejak beberapa tahun terakhir, terutama pada musim kemarau. Defisit air ini akan bertambah parah pada tahun-tahun mendatang akibat pertambahan penduduk dan meningkatnya kegiatan ekonomi. Gubernur Jawa Timur Soekarwo mengatakan, kondisi mata air di Jawa Timur sudah cukup kritis, sehingga diperlukan upaya penyelamatan terhadap yang masih tersisa. “Dari laporan yang saya dapat, dari 117 mata air yang ada, kini tersisa 53 sumber. Bahkan, ketika musim kemarau datang, sumber air hanya tersisa tiga. Kita perlu menyelamatkan sumber mata air dari kerusakan dengan melakukan konservasi melalui penanaman pohon di daerah sumber mata air, serta di sekitar daerah aliran sungai,” katanya.

Tak hanya di Jawa Timur, krisis air bersih terjadi di banyak kota di Indonesia, termasuk di ibukota RI, DKI Jakarta.  Dari data penelitian Walhi, 125 juta (65 persen) penduduk Indonesia tinggal di Pulau Jawa yang kapasitas kandungan airnya hanya 4,5 persen saja. Air merupakan isu penting yang dihadapi masyarakat Indonesia saat ini, karena air sangat penting bagi kehidupan. Adalah kenyataan, sekitar 85 persen masyarakat Indonesia masih mengonsumsi air yang kemungkinan besar terkontaminasi, karena lokasinya tidak memperhitungkan jarak dari tempat pembuangan tinja. United States Agency for International Development  (USAID) dalam laporannya  (2007), menyebutkan, penelitian di berbagai kota di Indonesia menunjukkan hampir 100 persen sumber air minum kita tercemar oleh bakteri  E Coli dan Coliform. Kualitas air dari segi  bakteriologis untuk air minum sangatlah penting karena dapat menimbulkan penyakit dan kematian dalam waktu singkat. Data dari Kementerian Kesehatan dan Bappenas tahun 2006, 19 persen kematian anak di bawah tiga tahun disebabkan oleh diare atau setara dengan 100.000 anak meninggal setiap tahun. Diare adalah pembunuh kedua terbesar balita Indonesia setiap tahunnya.

Gambar – gambar kerusakan lingkungan

Hutan gundul

Kerusakan lingkungan akibat penambangan bauksit di Binten, kepulauan Riau

Sumber Referensi :

1. Moh. Soejarni.dkk.1987. Lingkungan : sumberdaya alam dan kependudukan dalam pembangunan. Jakarta : UI-Press.

2.Dicuplik:http://nasional.kompas.com/read/2010/08/26/16374722/Lahan.dan.Hutan.Kritis…Air.Krisis. pada 2 april 2012. Pukul 06.14.